Bio Ethics

Bio Ethics

BIOETIKA : Sebuah Pengantar

>> Tuesday, February 02, 2010


William Chang, OFM Cap.Cet.1, 2009, 135 x 200 mm, 177 hlm, KANISIUSHarga Rp 30.000,-Kategori : TeologiISBN : 978-979-21-2289-3Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 Yayasan Lembaga Biblika Indonesia




Buku kecil ini menolong pembaca untuk mendalami makna hidup, seksualitas, kesehatan, penyakit, kematian, dan perpanjangan hidup. Bagaimanakah manusia seharusnya menghargai hidup, menjunjung harkat dan martabat manusia, dan mengambil keputusan-keputusan penting mengenai hidup? Mengapa tidak semua campur tangan medis dengan dunia teknologi modern tidak dapat diterima dari sudut tinjau iman? Bagaimanakah pandangan global tentang manusia yang mencari kesempurnaan dalam hidupnya? Jawaban atas rentetan pertanyaan di atas tersembunyi dalam buku ini.

Read more...

Konferensi Bioetika; Rekayasa Genetis Ternak dan Pangan Masih Jadi Perdebatan Etika 4 November 2008

Rekayasa genetis pada ternak serta teknologi pangan transgenik masih menjadi bahan perdebatan etika. Penerapan teknologi tersebut bisa meningkatkan produksi demi mencukupi kebutuhan pangan umat manusia, tetapi sering kali tidak sejalan dengan keserasian alam dan nilai kemanusiaan. Persoalan bioetika tersebut mengemuka dalam Konferensi Kesembilan Bioetika Asia yang pembukaannya berlangsung di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Senin (3/11). Mengusung tema ”Hidup Sehat dan Produktif, Serasian dengan Alam”, konferensi yang akan berlangsung selama lima hari itu menampilkan 100 pembicara dari 24 negara.

Dalam sambutannya, yang dibacakan Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Amin Subandrio, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyebutkan, bioetika tidak hanya membahas dampak penelitian pada manusia, tetapi juga bagi organisme lain demi keserasian alam. Oleh karena itu, etis tidaknya penerapan rekayasa genetika yang menyiksa pada ternak hingga saat ini masih menjadi pertanyaan.

Kusmayanto menjelaskan, dengan rekayasa genetika, produksi ternak bisa meningkat pesat. Namun, rekayasa genetika juga diketahui membuat ternak menderita. Contohnya, suntikan hormon bovine somatotrophin (bST) pada sapi untuk meningkatkan produksi susu hingga 15 persen. Namun, seiring dengan itu, tingkat penyakit pada sapi pun meningkat sehingga umur sapi menurun. ”Etiskah kita menyiksa ternak demi memenuhi kebutuhan umat manusia?” ujar Kusmayanto.

Jebakan pangan

Kusmayanto mengatakan, bioetika juga sangat penting bagi negara yang mengalami ”jebakan pangan” seperti Indonesia. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie mengatakan, pemindahan gen dari satu makhluk ke makhluk lain dalam metode transgenik juga masih menjadi perdebatan etika di bidang pertanian dan peternakan.”Pertanyaan yang ingin kita perjelas adalah apakah etis kita memindah-mindahkan gen manusia ke tubuh hewan atau tumbuhan hanya untuk meningkatkan produksinya,” kata Umar Anggara. (IRE)

Sumber: Kompas, Selasa, 4 November 2008 01:02 WIB

Read more...

Bioetika Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar WikipediaMerapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.

Bioetika adalah biologi dan ilmu kedokteran yang menyangkut masalah di bidang kehidupan, tidak hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan timbulnya pada masa yang akan datang.
[sunting]
Tiga etika dalam bioetika
1. Etika sebagai nilai-nilai dan asa-asas moral yang dipakai seseorang atau suatu keloompok sebagai pegangan bagi tingkah lakunya.
2. Etika sebagai kumpulan asas dan nilai yang berkenaan dengan moralitas (apa yang dianggap baik atau buruk). Misalnya: Kode Etik Kedokteran, Kode Etik Rumah Sakit.
3. Etika sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dari sudut norma dan Fransese Abel merumuskan definisi tentang bioetika yang diterjemahkan Bertens sebagai berikut:
Bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem-problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik pada skala mikro maupun pada skala makro, lagipula tentang dampaknya atas masyarakat luas serta sistim nilainya kini dan masa mendatang.

Read more...

Bioetika Indonesia: informasi dari internet


Bioetika Indonesia: informasi dari internet

Bioethics encompasses a field that is wider than just the relationship between the individual physician and the patient, one that includes a professional responsibility toward all form of life as well as the specific ethos that must prevail in modern form of institutionalized and organized medicine.(Sass, 1990)

Bioetika adalah studi interdisiplin tentang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, baik dalam skala mikro, serta dampaknya pada masyarakat sistem nilai kini dan di masa yang akan datang. (Abel, 1997)
Bioetika adalah disiplin yang berkaitan dengan moralitas pelayanan kesehatan, yang menyangkut dokter, pasien, institusi pemberi pelayanan kesehatan, dan kebijakan pelayanan kesehatan. (McCullough, 1994)

A discipline with a variety of methodologies for considering the implications of medical technology and treatment choices and asking what ought to be. (Vincler. LA, 2004)
Bioetika adalah penjelmaan dari Etika Kedokteran yang sudah tidak mampu lagi menampung permasalahan-permasalahan yang berkembang dalam bidang medik, juga karena menyangkut disiplin lain.

Catatan Set KBN: FK UnAir mengelola situs FK, denan halaman khusus bioetika. Di halaman depan khusus bioetika dari situs, http://dev.fk.unair.ac.id/id/bioetik/bioetika.html (19 Oktober 2009):

Read more...

Opening of the Sixth Session of the Intergovernmental Bioethics Committee (IGBC)

© UNESCO/A.

Wheeler On 9 July 2009, the Director-General of UNESCO, Mr Ko├»chiro Matsuura, opened the Sixth Session of the Intergovernmental Bioethics Committee (IGBC) at UNESCO Headquarters. The Director-General welcomed the representatives of the Committee’s 36 Member States, and congratulated Mr Jude Mathooko, the outgoing President of the IGBC, for the work accomplished during his mandate.

Recalling the outcome of the actions led by UNESCO in the field of bioethics during the past 10 years, Mr Matsuura assessed that “UNESCO, with the valued help of the IGBC, was able to live up to the expectations of the international community. The three universal declarations of 1997, 2003 and 2005 signalled a huge rupture in the history of bioethics by allowing the acknowledgment of universally accepted norms on complex issues such as the genome, the human genetic data and bioethics principles. In addition, we were able to introduce valued analysis, teaching, research and capacity-building programs”.

“In this process”, emphasized the Director-General, “the IGBC played a fundamental role. As a complement to the International Bioethics Committee (IBC), it provided essential pluralistic viewpoints and political perspectives, allowing the States to voice their needs and expectations and to always contribute relevant opinions”.



“With the growing internationalization of scientific and medical research and the globalization of ethical issues, the need for a better understanding of the ethical challenges became extremely apparent”, continued the Director-General. He then brought up the two questions on the agenda of the IBC and IGBC work plan for 2008-2009: the question of social responsibility and health, and the question of human cloning and international governance.



Recalling that the 1997 Universal Declaration on the Human Genome and Human Rights had established the principle of banning the “practices which are contrary to human dignity, such as reproductive cloning of human beings” (article 11), Mr Matsuura emphasized the extent of the evolution of scientific practices in the areas of cloning and of the use of stem cells, particularly pluripotent stem cells.


“On the issue of cloning, it is important that UNESCO and the international community continue to engage in the debate, using legal frameworks if judged necessary”, concluded the Director-General. He called upon UNESCO to “always be prepared to counter emerging ethical challenges and to find ways and means to solve these challenges through international cooperation, in a spirit of consensus”.

Read more...

COMMISSION ON GENETIC RESOURCES FOR FOOD AND AGRICULTURE (CGRFA)

Dalam persidangannya yang ke-11 (Eleventh Regular Session) di Roma, 11-15 June 2007, CGRFA mengagendakan upaya mengatasi ‘duplication’ dan ‘gap’ dalam injauan etika: Ethical questions regarding biotechnologies as they relate to genetic resources for food and agriculture

Identifikasi masalah ini disajikan dalam dua butir berikut ini:
Duplication
A number of forums, panels and policies are active on the issue of ethics regarding
biotechnologies in general e.g.:
the UN Inter-Agency Committee on Bioethics, UNESCO’s World Commission on the Ethics of Scientific Knowledge and Technology (COMEST),
UNESCOs Bioethics Programme,
the FAO Panel of Eminent Experts on Ethics in Food and Agriculture and
the WHO Ethics and Health Initiative). UNESCO is well advanced in the development of a Declaration on Universal Norms on Bioethics.

Gaps
The following possible gaps were identified:
• There is no international framework for the consideration of ethical issues in the application and use of biotechnologies, including in the area of food and agriculture.
• There may be a case to develop a Declaration which parallels the structure of the UNESCO declaration specifically for bioethics in relation to biotechnologies relevant to genetic resources for food and agriculture.

Pembahasan di atas ini baik untuk disimak. Di mana-mana hal seperti ini terjadi.
Walaupun tidak selalu merugikan, adanya ‘duplikasi’ perlu disadari sehingga terbuka jalan untuk menengahinya di ‘lapangan’.
Pengamatan seperti ini pula akan mengantar kita pada jalan konstruktif bagi semua pihak untuk maju. [setkbn1009]

Read more...

Sixth Session of the Intergovernmental Bioethics Committee (IGBC)

held at UNESCO Headquarters in Paris on 9 and 10 July 2009.


IGBC had the opportunity to examine and further comment on the new draft report drawn up by IBC on social responsibility and health and examined the Report of IBC on Human Cloning and International Governance. The following Member States of IGBC were represented: Colombia, Cuba, Czech Republic, Democratic People’s Republic of Korea, Denmark, Dominican Republic, France, Germany, India, Indonesia, Iran (Islamic Republic of), Jamaica, Japan, Kenya, Lebanon, Madagascar, Mauritania, Mauritius, Netherlands, Peru, Philippines, Poland, Republic of Korea, Russian Federation, Saudi Arabia, Senegal, Syrian Arab Republic, Slovakia, United Republic of Tanzania, United States of America, Uruguay and Zambia. The Committee elected its Bureau on the proposals put forward by the electoral groups, as follows: Mr Abdulaziz Al Swailem (Saudi Arabia) as Chairperson; Ms Cheryl Brown (Jamaica), Ms Linda Nielsen (Denmark); Mr Rem Petrov (Russian Federation) and Mr Endang Sukara (Indonesia) as Vice-Chairpersons; and Mr Faneva Randrianadraina (Madagascar) as Rapporteur.



Read more...

10th World Congress of Bioethics,Singapore, 28 – 31 July 2010!

Theme: Bioethics in a Globalised WorldSingapore is a young country but a global player in economics and increasingly in biomedical research. It is a great honour for Singapore to host the Congress, and we believe it will go far to establish Singapore as a regional centre and facilitator for bioethics. It also provides a great opportunity for delegates to consider the theme of the Congress, which is Bioethics in a Globalised World.

The WCB is a major conference and we are sure you would not be on this page unless you have some desire to be here in 2010. We have laid out the site to make it as easy as we can for you to get the information you need, and to make the registration process as simple as possible. We have also tried to make it easy for you to give us feedback, so that we can quickly improve anything not up to expectation.


The programme will develop as registration proceeds, but the themes already provide an indication of the direction of the Congress. We also plan to make available a variety of recommendations and options for social and cultural events, and generally to ensure you have a good chance to take advantage of leisure moments during your visit.We look forward to welcoming you in 2010.

The Organising Committee of the 10th WCB
http://www.bioethics-singapore.org/wcb2010/

Read more...

Pewarta KBN, Vol. 4, No. 4, September – Oktober 2009

Dari meja Penyunting Bila ditelusuri informasi di ‘internet’ melalui pelacakan search engine Google untuk kata kunci ‘bioetika’, informasi yang berasal dari Indonesia datang dari ribuan sumber. Menarik untuk melihat situs web yang diikhtisarkan dalam temuan Google ini (lebih dari 100 ribu entri). Kita dapat merasakan sampai di mana pemahaman ‘bioetika’ di tengah masyarakat luas, bahkan dengan sedikit upaya, kita akan bisa memperkirakan seberapa pemahaman mengenai ‘bioetika’ ini di kalangan ilmuwan Indonesia. Kata kunci ‘bioetika’ mengantar kita -- dalam sepuluh pilihan pertamanya -- ke kegiatan seminar, loka karya, atau karya tulis lain (skripsi, dll). Wikipedia Indonesia, ensiklopedi yang disusun dari masukan siapa saja, tidak kunjung mengembangkan topik ‘bioetika’ ini.

Di dunia internasional, kata kunci ‘bioethics’ mengantar kita -- dalam sepuluh pilihan pertamanya -- ke Wikipedia, American Journal of Bioethics, President’s Council, bioethics resources in the Web, dst. Himpunan informasinya adalah himpunan lembaga yang sudah mapan dan dikelola secara profesional.

Kita kembali ke kutipan yang sudah sering dikemukakan di lingkungan KBN, yaitu bahwa Universal Declaration on Bioethics and Human Rights dilandasi oleh kesadaran bahwa: “ … ethical issues raised by the rapid advances in science and their technological applications should be examined with due respect to the inherent dignity of the human person and universal respect for, and observance of, human rights and fundamental freedoms …”.

Bioetika di Indonesia mengambil berbagai masalah yang akan dihadapinya melalui ‘the rapid advances in science and their technological applications’ yang kita terima; contohnya ialah modifikasi genetika pada organisme (GM Organism) atau pada pangan (GM Food). Lalu bagaimana menganalisisnya? Ada isyu etika yang timbul dari tiga kelompok sub-topik yang dapat di’masalah’kan, yaitu (1) modifikasi genetikanya sendiri; (2) risiko yang melekat pada proses modifikasinya itu; dan (3) kemungkinan penyalahgunaan. Begitulah, sedikit-sedikit, secara bertahap kita dapat mengisolasi masalah etika dari suatu terobosan keilmuan, khususnya di bidang ilmu hayati.

Di Indonesia dapat diperkirakan bahwa rapid advances in science and their technological applications masih terasa asing dan jauh dari keseharian kita. KBN akan mejalankan fungsinya melalui forum diskusi meja bundar dan diskusi panel, antar-anggota dan juga dengan mengundang pakar dan ahli di berbagai bidang: kesehatan masyarakat, kesejahteraan hewan dan hewan coba, bahkan plagiarisme. [ahn 1009]

Read more...

News Bioteknologi

Welcome to Research Center for Biotechnology LIPI

The Ninth Asian Bioethics Conference

Footnote

Contents by KBN ; bio ethics pict from nature_01 template; modified & maintenance by Ahmad S.S

  © Free Blogger Templates Joy by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP